Kadang kita kalau ketemu orang tuh suka nggak ngeh ya apa sih makna pertemuan ini. Tapi sebenarnya Tuhan itu selalu ngasih pesan tersirat dari sebuah pertemuan, bahkan pertemuan yang nggak kita inginkan sekalipun.
Siang itu, saat sedang asyik-asyiknya menonton drama korea Secretary Kim kesukaanku, tiba-tiba mama menelepon..
"Ya ma?"
"Nanti ada yang mau nginep, beresin kamar!" Perintah mama emang suka begitu. Tapi aku kaget dong siapa yang mau nginep ?
"Hah? siapa ? apaan sih ma, jangan ngajak orang gak jelas nginep deh." Mamaku itu punya karakter terlalu baik ke orang, mungkin ini juga yang bikin doi waktu muda jadi Ratu PHP.
"Ini keluarga, dia sepupuan sama kakekmu, dari blah blah bluh la la la," Aku nggak ngerti juga silsilahnya, oke ini keluarga.
Aku beresin rumah. Oh ya, ini rumahku yang baru di Banjarbaru. Kota di Kalimantan Selatan, bukan yang di Barabai, ini nggak sehorror rumah sebelumnya, walaupun ya kadang-kadang ada. Aku bener-bener males waktu itu, secara kalau ada orang ke rumah nginep kita harus menjamu dan melayani dengan baik. Bukannya aku nggak mau, bahkan udah sering begini. Tapi aku sedang haidh waktu itu, hari pertama tahu kan gimana mood hancurnya berkeping-keping.
Sore yang masih panas itu, tiba-tiba pintu rumah diketok. Kudapati seorang remaja putra sepertinya seumur adikku 17 tahun, dan sang Bapak yang tua sepertinya mendekati renta tapi diusahakan gagah dan gigih.
Aku persilakan mereka masuk, aku sapa dan berkenalan. Mamaku sedang ada di luar kota saat itu, jadi hanya aku dan adik-adikku yang ada di rumah. Sambil menyajikan minuman standar buat tamu, teh hangat beserta cemilan. Aku berbincang..
"Dari mana pak?" tanyaku, sambil memerhatikan wajah dan badan mereka penuh debu jalanan. Mereka naik motor btw.
"Dari hapulang nak," sahut bapaknya bergetar, getar sinyal usia yang sudah tua. Fyi, hapulang itu perkampungan di Barabai, yang jauuuuh banget.
"Dari jam berapa?" tanyaku lagi
"jam 12 tadi," What ? Mereka dijalan sekitar 5 jam. Lama banget loh.
Anaknya itu selalu terlihat antusias, wajahnya ceria dan penuh harap. Berbeda dengan adikku yang selow bahkan kadang tak bergairah. Hahaha
"Mau tes IPDN kak besok." Terangnya, oh dia mau tes toh. Percakapan kami pun makin lama makin banyak dan aku menikmati cerita mereka. Hatiku rasanya teriris-iris setelah mengetahui, ibunya sudah lama tiada. Ayahnya ini pun sempat kena stroke. Kakaknya sudah lama merantau dan tak pulang-pulang, kabarpun jarang didengar. Tinggalah mereka berdua selama ini sejak dia SD hingga sekarang lulus SMA.
Dia anak yang cerdas, selalu ranking 3 besar di kelasnya. Tak pernah malu dengan keterbatasan alias kemiskinan tapi mau menujukkan bahwa dia juga sama seperti yang lainnya, punya rasa juang yang besar atas cita-citanya. Menjadi PNS. Sedangkan di kota tempat aku tinggal, PNS tidak sepopuler dulu pamornya. Saat ku tanya, kenapa ingin jadi PNS? Dia bilang, agar hidup mapan. Tak perlu kaya, asal berkecukupan dan bisa menyambung hidup. Ayahnya dulunya ternyata juga PNS, tapi sudah lama sekali pensiun. Sekarang penghasilan hanya dari pensiunan PNS tersebut. Ikut IPDN, harapannya karier lebih baik dibanding sang ayah, karena ayahnya dulu hanya lulusan SMA saja karier juga mentok di staff.
Singkat cerita, setelah mengikuti tes. Dia lolos hingga babak akhir. Namun setelah tes terakhir lama tak kudengar kabarnya juga dari mama. Aku bahkan sampai lupa dengan mereka.
Satu tahun kemudian, saat H-1 pernikahanku, si Bapak Tua dan Putra bungsunya ini datang ke rumah. Aku terkaget, karena memang lama tak bertemu.
"kak, aku sekarang sudah kerja." Kata si Bungsu.
"Oh ya? Dimana ?" Kataku penasaran. Dari sini aku langsung dapat menyimpulkan dia tak lolos dibabak akhir IPDN tahun lalu.
"PNS kak aku sekarang."
"Kok bisa?" Refleks antara kaget dan senang aku dengarnya.
"Iya dia kemaren ikut CPNS kemenkumham. Alhamdulillah lulus. Rezekinya tidak di IPDN, tapi di sini. Tenang bapak," terang ayahnya.
Kulihat wajah bahagia keduanya. Hatiku terenyuh. Bahkan sebuah perjuangan, harapan, dan pengorbanan yang hanya selangkah lagi mencapai keberhasilan tak melulu menjadi hak dan rezeki kita. Tapi buktinya, selalu ada kesempatan didepan sana dan mungkin itulah yang terbaik untuk dijalani. Mendengar kata "tenang bapak" dari si Pak Tua rasanya aku seketika teringat orang tua. Orangtua hanya ingin tenang melihat anaknya baik-baik saja.
Siang itu, saat sedang asyik-asyiknya menonton drama korea Secretary Kim kesukaanku, tiba-tiba mama menelepon..
"Ya ma?"
"Nanti ada yang mau nginep, beresin kamar!" Perintah mama emang suka begitu. Tapi aku kaget dong siapa yang mau nginep ?
"Hah? siapa ? apaan sih ma, jangan ngajak orang gak jelas nginep deh." Mamaku itu punya karakter terlalu baik ke orang, mungkin ini juga yang bikin doi waktu muda jadi Ratu PHP.
"Ini keluarga, dia sepupuan sama kakekmu, dari blah blah bluh la la la," Aku nggak ngerti juga silsilahnya, oke ini keluarga.
Aku beresin rumah. Oh ya, ini rumahku yang baru di Banjarbaru. Kota di Kalimantan Selatan, bukan yang di Barabai, ini nggak sehorror rumah sebelumnya, walaupun ya kadang-kadang ada. Aku bener-bener males waktu itu, secara kalau ada orang ke rumah nginep kita harus menjamu dan melayani dengan baik. Bukannya aku nggak mau, bahkan udah sering begini. Tapi aku sedang haidh waktu itu, hari pertama tahu kan gimana mood hancurnya berkeping-keping.
Sore yang masih panas itu, tiba-tiba pintu rumah diketok. Kudapati seorang remaja putra sepertinya seumur adikku 17 tahun, dan sang Bapak yang tua sepertinya mendekati renta tapi diusahakan gagah dan gigih.
Aku persilakan mereka masuk, aku sapa dan berkenalan. Mamaku sedang ada di luar kota saat itu, jadi hanya aku dan adik-adikku yang ada di rumah. Sambil menyajikan minuman standar buat tamu, teh hangat beserta cemilan. Aku berbincang..
"Dari mana pak?" tanyaku, sambil memerhatikan wajah dan badan mereka penuh debu jalanan. Mereka naik motor btw.
"Dari hapulang nak," sahut bapaknya bergetar, getar sinyal usia yang sudah tua. Fyi, hapulang itu perkampungan di Barabai, yang jauuuuh banget.
"Dari jam berapa?" tanyaku lagi
"jam 12 tadi," What ? Mereka dijalan sekitar 5 jam. Lama banget loh.
Anaknya itu selalu terlihat antusias, wajahnya ceria dan penuh harap. Berbeda dengan adikku yang selow bahkan kadang tak bergairah. Hahaha
"Mau tes IPDN kak besok." Terangnya, oh dia mau tes toh. Percakapan kami pun makin lama makin banyak dan aku menikmati cerita mereka. Hatiku rasanya teriris-iris setelah mengetahui, ibunya sudah lama tiada. Ayahnya ini pun sempat kena stroke. Kakaknya sudah lama merantau dan tak pulang-pulang, kabarpun jarang didengar. Tinggalah mereka berdua selama ini sejak dia SD hingga sekarang lulus SMA.
Dia anak yang cerdas, selalu ranking 3 besar di kelasnya. Tak pernah malu dengan keterbatasan alias kemiskinan tapi mau menujukkan bahwa dia juga sama seperti yang lainnya, punya rasa juang yang besar atas cita-citanya. Menjadi PNS. Sedangkan di kota tempat aku tinggal, PNS tidak sepopuler dulu pamornya. Saat ku tanya, kenapa ingin jadi PNS? Dia bilang, agar hidup mapan. Tak perlu kaya, asal berkecukupan dan bisa menyambung hidup. Ayahnya dulunya ternyata juga PNS, tapi sudah lama sekali pensiun. Sekarang penghasilan hanya dari pensiunan PNS tersebut. Ikut IPDN, harapannya karier lebih baik dibanding sang ayah, karena ayahnya dulu hanya lulusan SMA saja karier juga mentok di staff.
Singkat cerita, setelah mengikuti tes. Dia lolos hingga babak akhir. Namun setelah tes terakhir lama tak kudengar kabarnya juga dari mama. Aku bahkan sampai lupa dengan mereka.
Satu tahun kemudian, saat H-1 pernikahanku, si Bapak Tua dan Putra bungsunya ini datang ke rumah. Aku terkaget, karena memang lama tak bertemu.
"kak, aku sekarang sudah kerja." Kata si Bungsu.
"Oh ya? Dimana ?" Kataku penasaran. Dari sini aku langsung dapat menyimpulkan dia tak lolos dibabak akhir IPDN tahun lalu.
"PNS kak aku sekarang."
"Kok bisa?" Refleks antara kaget dan senang aku dengarnya.
"Iya dia kemaren ikut CPNS kemenkumham. Alhamdulillah lulus. Rezekinya tidak di IPDN, tapi di sini. Tenang bapak," terang ayahnya.
Kulihat wajah bahagia keduanya. Hatiku terenyuh. Bahkan sebuah perjuangan, harapan, dan pengorbanan yang hanya selangkah lagi mencapai keberhasilan tak melulu menjadi hak dan rezeki kita. Tapi buktinya, selalu ada kesempatan didepan sana dan mungkin itulah yang terbaik untuk dijalani. Mendengar kata "tenang bapak" dari si Pak Tua rasanya aku seketika teringat orang tua. Orangtua hanya ingin tenang melihat anaknya baik-baik saja.
Comments
Post a Comment